4. Konsistensi dan Standar
Prinsip ini menyatakan bahwa pengguna tidak boleh dibingungkan oleh perbedaan kata, situasi, atau tindakan yang sebenarnya memiliki makna yang sama. Karena itu sangat penting untuk mengikuti konvensi platform dan industri. Landasan ilmiah dari prinsip ini adalah Jakob’s Law, yang menyatakan bahwa pengguna menghabiskan sebagian besar waktu mereka pada produk atau platform lain. Hal ini membentuk ekspektasi bahwa produk Anda harus bekerja dengan cara yang serupa dengan standar yang sudah ada. Kegagalan mematuhi prinsip ini akan meningkatkan beban kognitif pengguna dengan memaksa mereka untuk kembali mempelajari sesuatu yang baru.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip konsistensi diterapkan untuk memenuhi ekspektasi spasial dan visual pengguna. Contohnya adalah penempatan meja resepsionis yang selalu berada di lobi utama hotel, memudahkan tamu yang baru datang. Demikian pula di bank, penggunaan seragam berfungsi sebagai standar visual untuk membedakan staf dari nasabah. Tanpa konsistensi ini misalnya jika staf berpakaian bebas nasabah akan mengalami kebingungan kognitif saat harus mencari bantuan.
Di ranah desain antarmuka, prinsip ini menuntut keselarasan dengan model mental yang sudah ada. Aplikasi e-commerce secara konsisten mengadopsi masukkan keranjang belanja lalu bayar, sehingga saat anda membangun aplikasi ecommerce serupa sebaiknya anda mengikuti proses konvensi yang sudah digunakan oleh platform sejenis. Lebih lanjut, dalam pengembangan aplikasi mobile, desainer sebaiknya mengikuti panduan yang berlaku pada platform mobile aplikasi target (Google Material Design untuk Android atau Human Interface Guidelines untuk iOS) agar pengguna tidak terbebani mempelajari navigasi baru. Sebagai contoh, pengguna iOS terbiasa mencari tombol 'Kembali' di pojok kiri atas, dan pengguna Android yang terbiasa menggunakan tombol navigasi di bagian bawah layar.